Pulang ke Ciledug di malam hari ketika hari Jumat selalu melelahkan. Di hari Jumat, saya harus evaluasi PO sehingga pulang paling cepat jam 8 malam. Kadang malah sampai terlalu malam sehingga saya baru bisa pulang Sabtu pagi. Itupun kalau tidak ada acara hari Sabtu. Tapi sebagai anak yang manja, saya sangat ingin pulang ke rumah, sekalipun itu malam hari. Hari ini kebetulan saya bisa pulang jam 8 malam dari Teknik UI Depok. Hari Jumat selalu ramai. Semua orang pulang ke rumah mereka, mempersiapkan diri untuk weekend bersama keluarga.
Setelah menunggu yang tidak terlalu lama (tumben abis… Puji Tuhan!) di pinggir jalan Margonda, datanglah Kopaja kesayangan saya yang akan membawa saya ke Blok M. Bisnya cukup penuh. Untungnya saya masih melihat satu tempat duduk kosong, walaupun di belakang, berseberangan dengan pintu belakang bis. Ketika saya melihat sekeliling. Oh my gosh, orang-orang di belakang ini sangar-sangar sekali ya. Sudah malam pula. Dan ini mungkin kloter terakhir orang-orang yang pulang bekerja, sehingga semua tampak suram. Sebagian besar orang di bis itu laki-laki. Meskipun di bagian depan tampak beberapa orang kantoran dan mahasiswa, namun di bagian belakang ada sekitar 5 orang yang sangat sangar tampangnya. Dan di sana, di pojok belakang dekat pintu, duduk seorang bapak yang tampak paling sangar dan besar badannya. Tapi ya sudahlah. Saya pun tetap duduk di tempat yang kosong. Daripada berdiri satu setengah jam.
Selang beberapa lama, naiklah seorang bapak-bapak lusuh, mm, saya tidak bisa menebak berapa umurnya, sepertinya sudah cukup berumur. Dia membawa sebuah gitar kecil yang tidak kalah lusuh. Kenek bis berteriak ketika dia hendak masuk “Ah, ga usah diangkut, Pir! Cuma pengamen!” Tapi toh akhirnya bapak itu naik juga. Dia naik dari pintu belakang dekat saya, dan barulah saya menyadari, bapak-bapak pengamen itu… BUTA. Dengan meraba-raba dia naik dan setelah menemukan posisi yang dirasa tepat (walaupun tidak, karena dia terlalu ke belakang), dia mulai menyanyikan sebuah lagu dengan gitar kecil yang tak berbentuk itu. Sesungguhnya, saya tidak mendengar dia memainkan apa. Headset saya terpasang di telinga. Ah, toh orang lain juga sepertinya tidak mendengarkan dia. Meskipun begitu, saya tetap mengeluarkan selembar seribu rupiah untuk diberikan padanya.
Selesai menyanyi (entah berapa lagu, saya tidak tahu), dia meminta uang. Tanpa kantong permen khas pengamen, dia menggunakan tangannya sendiri untuk menadah uang. Saya melihat, kakak mahasiswa berkemeja di depan itu, tidak memberikan uang. Om-om muda kantoran itu, tidak juga. Tak bisa disalahkan, sudah beberapa kali pengamen naik dan turun di bis kami ini. Saya saja sudah bosan dan memilih ber-headset-ria. Sang pengamen buta semakin bergerak ke arah belakang bis. Loh, bapak-bapak sangar yang duduk di serong depan saya (salah satu dari top-5-sangar itu), memberikan uang selembar. Saya memberi. Orang di belakang saya juga. Sepertinya hanya itu.
Bis melaju semakin kencang dan hendak memasuki tol. Sang pengamen mengetuk atap bis, sebagai tanda meminta untuk turun. Posisi dia sekarang sudah di pintu belakang. Si kenek judes berkata “Mau kemana? Mau masuk tol kita! Udah entar aja!”. Sang pengamen pasrah meskipun kelihatan gelisah. Bis melaju semakin kencang. Dengan kebutaannya, sepertinya dia sulit menemukan pegangan.
Saya melihat ke arah pintu, dan apa yang saya lihat? Bapak-bapak-sangar-number-one-yang-duduk-di-paling-pojok-deket-pintu-belakang itu menjulurkan kakinya ke arah pintu dan menghalangi pintu itu. Tujuannya jelas. Supaya si pengamen buta tidak terjatuh ataupun memaksa turun dari bis karena tidak tahu keadaan. Waw. Saya salut dengan ketulusan hatinya. Dan… Sepanjang jalan tol… Dengan bis yang terus melaju semakin kencang… Tidak sedikit pun dia menurunkan kakinya dari sana.
Tindakan yang dilakukannya memang kecil. Dia juga tadi tidak memberikan uang. Yah, mungkin dia sendiri pun kesulitan kali ya. Tidak tahulah saya. Tapi, dari hal itu, dia memikirkan keselamatan si pengamen buta. Pengamen buta yang tidak seorang pun menghargai. Pengamen buta yang mungkin kalau dia hilang di jalan, tidak ada juga yang peduli. Dan sebenarnya, pengamen buta itupun tidak tahu apa yang dilakukan oleh bapak sangar itu. Dia tidak melihat, bahwa ada seorang yang berusaha melindungi nyawanya. Dia tidak bisa melihat. Tapi, walaupun tidak dilihat, toh si bapak sangar tetap melakukannya.
Saya jadi berpikir, di dalam kesangaran tubuhnya, tersimpan hati seorang malaikat (Ehem, saya harus berhenti sejenak. Ngeri membayangkan si bapak sangar menjadi bersayap dan membawa tongkat seperti ibu peri. Oke, maaf). Ya, saya telah salah menilai. Awalnya saya takut duduk di belakang. Tapi, apa yang terjadi? Orang-orang di depan itu, mereka tidak peduli. Mereka sudah sibuk dengan individualitas mereka. Mungkin mereka terlalu lelah dengan pekerjaan mereka. Atau, terlalu sombong? Justru di sini, di belakang, saya menemukan hati-hati yang tulus dan mau membantu. Dari bapak pertama yang memberi uang, sampai si-sangar-number-one.
Akhirnya bis keluar dari jalan tol. Kaki si bapak sangar masih terjulur menghalangi pintu bis. Ketika bis melambat di perempatan lampu merah, barulah ia menurunkan kakinya memberikan jalan. Bis benar-benar berhenti di perempatan. Si pengamen buta mengetuk atap lagi meminta turun. Dan ketika turun lewat pintu belakang, sang bapak sangar membantunya. Memegang lengannya dan membantunya turun. Dan apa yang saya lihat? Satu orang malaikat lagi sekonyong-konyong datang. Ketika si pengamen buta meraba-raba mencari bis yang bisa dia naiki lagi, langsung kenek bis lain yang sedang mangkal di perempatan itu dengan sigap mengambil lengan si pengamen dan menuntun ke dalam bisnya. Kejadian itu hanya saya lihat sekilas, karena bis saya langsung melaju lagi.
Kejadian kecil itu sungguh membuat saya terharu. Di tengah dunia yang semakin individualis ini, masih ada orang-orang yang mengasihi sesamanya. Menghargai setiap nafas kehidupan, meskipun kadang orang itu tidak berarti di mata orang lain. Dan saya? Apa yang sudah saya kerjakan? Apakah saya peduli seperti itu? Di sisi yang lain, saya bersyukur dianugerahi Tuhan segala hal yang begitu baik. Sehingga orang masih bisa menyadari eksistensi saya. Tapi apakah saya sudah membagikan itu ke orang lain. Dan membuat mereka menyadari, bahwa sekecil apapun mereka, setidakberharga apapun, eksistensi mereka tetap berharga di mata Tuhan. Dan kasih itu. Kasih yang dianugerahkan Tuhan untuk kita bagi kepada sesama, sudahkah kita bagikan?
Dari orang yang tidak dianggap, ada kasih Tuhan di antara mereka. Dan kasih itu adalah bentuk nyata pancaran kasih Tuhan.
Sementara itu, di headset saya berkumandang:
…the earth is filled with His glory…
Depok-Ciledug, 11 Desember 2009