Feeds:
Posts
Comments

Marry U

Love, oh baby my girl
You are my everything
My dazzlingly beautiful bride
You are a gift from god
We’ll be very happy, your black eyes well up with tears
Even if your black memerizing hair turns white
My love, you my love, I swear I love you

Saying I love you is what I want to do the most everyday in my life
Would you marry me? I want to love you, treasure you, and live with you
I want you to lean on my shoulders each time you sleep
Would you marry me?
With this heart of mine, will you accept me?

To accompany you for the whole lifetime, I do
To love you, I do
Regardless of snow and rain, i will be there to protect you, I do
Let me be the one to protect you, my love

You wearing the white bridal gown
Me wearing the suit
Both of us walking in sync towards the stars and moon, I swear
No lies, no suspicion
My dearest princess, stay with me

Even if we are becoming older, we will smile and live on
Would you marry me? Are you willing to live the rest of your life with me?

No matter how weary and tired we are, I do
I will always be by your side, I do
The days when we will spend together, I do
Everyday will my heart be thankful, my love

I have prepared this (ring) for you since a long time ago,
Please take this shiny ring in my hand
Just like the mood today, remember the promise that we’re making now
Would you marry me?

To accompany you for the whole lifetime,I do
To love you, I do
Regardless of snow and rain, I will be there to protect you, I do
Let me be the one to protect you, my love

The only thing that I can give you is love
Although it’s insignificant
Even though there are areas which I lack
I will protect the love between us, me and you
Let’s make a promise, no matter what happens we will still be in love
And even so…

I will always be by your side, I do
The days when we will spend together, I do
Everyday will my heart be thankful, my love

Will you marry me? I do

-originally by 슈 퍼 주 니 어

Pulang ke Ciledug di malam hari ketika hari Jumat selalu melelahkan. Di hari Jumat, saya harus evaluasi PO sehingga pulang paling cepat jam 8 malam. Kadang malah sampai terlalu malam sehingga saya baru bisa pulang Sabtu pagi. Itupun kalau tidak ada acara hari Sabtu. Tapi sebagai anak yang manja, saya sangat ingin pulang ke rumah, sekalipun itu malam hari. Hari ini kebetulan saya bisa pulang jam 8 malam dari Teknik UI Depok. Hari Jumat selalu ramai. Semua orang pulang ke rumah mereka, mempersiapkan diri untuk weekend bersama keluarga.

Setelah menunggu yang tidak terlalu lama (tumben abis… Puji Tuhan!) di pinggir jalan Margonda, datanglah Kopaja kesayangan saya yang akan membawa saya ke Blok M. Bisnya cukup penuh. Untungnya saya masih melihat satu tempat duduk kosong, walaupun di belakang, berseberangan dengan pintu belakang bis. Ketika saya melihat sekeliling. Oh my gosh, orang-orang di belakang ini sangar-sangar sekali ya. Sudah malam pula. Dan ini mungkin kloter terakhir orang-orang yang pulang bekerja, sehingga semua tampak suram. Sebagian besar orang di bis itu laki-laki. Meskipun di bagian depan tampak beberapa orang kantoran dan mahasiswa, namun di bagian belakang ada sekitar 5 orang yang sangat sangar tampangnya. Dan di sana, di pojok belakang dekat pintu, duduk seorang bapak yang tampak paling sangar dan besar badannya. Tapi ya sudahlah. Saya pun tetap duduk di tempat yang kosong. Daripada berdiri satu setengah jam.

Selang beberapa lama, naiklah seorang bapak-bapak lusuh, mm, saya tidak bisa menebak berapa umurnya, sepertinya sudah cukup berumur. Dia membawa sebuah gitar kecil yang tidak kalah lusuh. Kenek bis berteriak ketika dia hendak masuk “Ah, ga usah diangkut, Pir! Cuma pengamen!” Tapi toh akhirnya bapak itu naik juga. Dia naik dari pintu belakang dekat saya, dan barulah saya menyadari, bapak-bapak pengamen itu… BUTA. Dengan meraba-raba dia naik dan setelah menemukan posisi yang dirasa tepat (walaupun tidak, karena dia terlalu ke belakang), dia mulai menyanyikan sebuah lagu dengan gitar kecil yang tak berbentuk itu. Sesungguhnya, saya tidak mendengar dia memainkan apa. Headset saya terpasang di telinga. Ah, toh orang lain juga sepertinya tidak mendengarkan dia. Meskipun begitu, saya tetap mengeluarkan selembar seribu rupiah untuk diberikan padanya.

Selesai menyanyi (entah berapa lagu, saya tidak tahu), dia meminta uang. Tanpa kantong permen khas pengamen, dia menggunakan tangannya sendiri untuk menadah uang. Saya melihat, kakak mahasiswa berkemeja di depan itu, tidak memberikan uang. Om-om muda kantoran itu, tidak juga. Tak bisa disalahkan, sudah beberapa kali pengamen naik dan turun di bis kami ini. Saya saja sudah bosan dan memilih ber-headset-ria. Sang pengamen buta semakin bergerak ke arah belakang bis. Loh, bapak-bapak sangar yang duduk di serong depan saya (salah satu dari top-5-sangar itu), memberikan uang selembar. Saya memberi. Orang di belakang saya juga. Sepertinya hanya itu.

Bis melaju semakin kencang dan hendak memasuki tol. Sang pengamen mengetuk atap bis, sebagai tanda meminta untuk turun. Posisi dia sekarang sudah di pintu belakang. Si kenek judes berkata “Mau kemana? Mau masuk tol kita! Udah entar aja!”. Sang pengamen pasrah meskipun kelihatan gelisah. Bis melaju semakin kencang. Dengan kebutaannya, sepertinya dia sulit menemukan pegangan.

Saya melihat ke arah pintu, dan apa yang saya lihat? Bapak-bapak-sangar-number-one-yang-duduk-di-paling-pojok-deket-pintu-belakang itu menjulurkan kakinya ke arah pintu dan menghalangi pintu itu. Tujuannya jelas. Supaya si pengamen buta tidak terjatuh ataupun memaksa turun dari bis karena tidak tahu keadaan. Waw. Saya salut dengan ketulusan hatinya. Dan… Sepanjang jalan tol… Dengan bis yang terus melaju semakin kencang… Tidak sedikit pun dia menurunkan kakinya dari sana.

Tindakan yang dilakukannya memang kecil. Dia juga tadi tidak memberikan uang. Yah, mungkin dia sendiri pun kesulitan kali ya. Tidak tahulah saya. Tapi, dari hal itu, dia memikirkan keselamatan si pengamen buta. Pengamen buta yang tidak seorang pun menghargai. Pengamen buta yang mungkin kalau dia hilang di jalan, tidak ada juga yang peduli. Dan sebenarnya, pengamen buta itupun tidak tahu apa yang dilakukan oleh bapak sangar itu. Dia tidak melihat, bahwa ada seorang yang berusaha melindungi nyawanya. Dia tidak bisa melihat. Tapi, walaupun tidak dilihat, toh si bapak sangar tetap melakukannya.

Saya jadi berpikir, di dalam kesangaran tubuhnya, tersimpan hati seorang malaikat (Ehem, saya harus berhenti sejenak. Ngeri membayangkan si bapak sangar menjadi bersayap dan membawa tongkat seperti ibu peri. Oke, maaf). Ya, saya telah salah menilai. Awalnya saya takut duduk di belakang. Tapi, apa yang terjadi? Orang-orang di depan itu, mereka tidak peduli. Mereka sudah sibuk dengan individualitas mereka. Mungkin mereka terlalu lelah dengan pekerjaan mereka. Atau, terlalu sombong? Justru di sini, di belakang, saya menemukan hati-hati yang tulus dan mau membantu. Dari bapak pertama yang memberi uang, sampai si-sangar-number-one.

Akhirnya bis keluar dari jalan tol. Kaki si bapak sangar masih terjulur menghalangi pintu bis. Ketika bis melambat di perempatan lampu merah, barulah ia menurunkan kakinya memberikan jalan. Bis benar-benar berhenti di perempatan. Si pengamen buta mengetuk atap lagi meminta turun. Dan ketika turun lewat pintu belakang, sang bapak sangar membantunya. Memegang lengannya dan membantunya turun. Dan apa yang saya lihat? Satu orang malaikat lagi sekonyong-konyong datang. Ketika si pengamen buta meraba-raba mencari bis yang bisa dia naiki lagi, langsung kenek bis lain yang sedang mangkal di perempatan itu dengan sigap mengambil lengan si pengamen dan menuntun ke dalam bisnya. Kejadian itu hanya saya lihat sekilas, karena bis saya langsung melaju lagi.

Kejadian kecil itu sungguh membuat saya terharu. Di tengah dunia yang semakin individualis ini, masih ada orang-orang yang mengasihi sesamanya. Menghargai setiap nafas kehidupan, meskipun kadang orang itu tidak berarti di mata orang lain. Dan saya? Apa yang sudah saya kerjakan? Apakah saya peduli seperti itu? Di sisi yang lain, saya bersyukur dianugerahi Tuhan segala hal yang begitu baik. Sehingga orang masih bisa menyadari eksistensi saya. Tapi apakah saya sudah membagikan itu ke orang lain. Dan membuat mereka menyadari, bahwa sekecil apapun mereka, setidakberharga apapun, eksistensi mereka tetap berharga di mata Tuhan. Dan kasih itu. Kasih yang dianugerahkan Tuhan untuk kita bagi kepada sesama, sudahkah kita bagikan?

Dari orang yang tidak dianggap, ada kasih Tuhan di antara mereka. Dan kasih itu adalah bentuk nyata pancaran kasih Tuhan.

Sementara itu, di headset saya berkumandang:

…the earth is filled with His glory…

 

Depok-Ciledug, 11 Desember 2009

10 December 2009

December…

2009…

How far we have gone…

Christmas… again

New year… again

But, many things change.

Sekarang saya di penghujung semester 7. Ga nyangka. Angkatan tertua. Semakin banyak orang asing di kantek. Sudah harus sibuk skripsi. Dan saya, tema pun belom kepikiran. Jangankan pembimbing. Melihat semua teman-teman sudah “mengetek” pembimbing favorit mereka dan mulai mencari tema. Saya tidak ada waktu untuk bergerak. Dan berpikir.

Sudah 7 semester. Terlalu banyak hal yang terjadi. Saya sudah merasakan 2 tahun pulang pergi. Dan satu setengah tahun ngekos. Dan semester depan? Entahlah. Sepertinya pulang pergi lagi. Saya tidak mengatakan semester depan saya pasti lulus. Semuanya tergantung Tuhan. FYI, ada satu masalah yang saya hadapi sekarang. Agak berkaitan dengan akademis sih. Hhh… Memang menuliskan ini sangat berat. Saya pun gentar menulisnya. Impian saya untuk lulus 4 tahun dan cum laude. Tapi saya berserah sama Tuhan. He knows things better. Oke, masih terlalu berat menurut saya. Meskipun saya sudah menyalakan lilin itu, tanda penyerahan diri penuh padaNya.

How far we have gone…

Saya. Saat ini koordinator POFTUI. Saya. Yang empat tahun, ah tidak, tiga tahun lalu masih begitu tenggelam dalam dosa (sampai sekarang juga sih). Tapi, inilah saya. Sampai detik ini saya masih aneh jika disebut, atau disuruh tanda tangan Sisca Pratiwi, Koordinator POFTUI. POFTUI yang kata orang dewasa, baik, bertumbuh. Apalah saya? Kenapa Tuhan memilih saya? Selalu merasa tidak cukup layak.

Tapi di sinilah saya sekarang. Semua orang memanggil saya Kak. Rasanya aneh. Mengingat betapa saya juga dulu menghormati kakak-kakak saya di PO. Saya sekarang mempunyai teman-teman baik. Teman yang berjuang bersama. Yah, tho lately we haven’t talked much, I still thank God for you guys. Sesungguhnya, di akhir pelayanan kita ini, saya rindu kebersamaan kita yang dulu lagi. Kasih yang mula-mula itu. We were too busy lately… But I really thank God to give me brother and sister like you.

Di sinilah saya sekarang. Memikirkan regenerasi. Ya, regenerasi POFTUI. Meneruskan visi itu ke angkatan bawah. Secepat itu? Hey! Bahkan saya belum merasakan apa-apa. Ya. Secepat itu. Show must go on, guys! Di saat saya menulis ini pun, saya sedang menulis juga tugas pembinaan yang harus dikerjakan pengurus ke depan. Dan di sana, di tempat tidur saya, tertidur lelap salah seorang Calon Tim Inti. Yah, merekalah, CTI, yang membuat pengharapan kami bertumbuh. I love you bro n sist. Melihat Allah terus menyertai POFTUI dari jaman dahulu. Sekarang kepercayaan saya diuji. Allah yang sama jugalah yang akan menjaga POFTUI ke depan.

Besok. POJ terakhir saya sebagai koordinator.

Begitu cepat waktu berlalu.

How far we have gone…

Penyesalan? Pasti ada. Jangan tanyakan betapa banyaknya. Saya tidak merasa saya tim inti – apalagi koordinator – yang baik. Banyak kelalaian, keegoisan yang menguasai. Saya tidak merasa saya PKK yang baik. Kadang saya tidak mempersiapkan diri dengan baik. Saya tidak merasa saya sie KK yang baik. Saya lalai memperhatikan para PKK. Saya tidak merasa saya teman yang baik. Saya tidak peduli akan kondisi teman saya. Saya tidak merasa saya teman angkatan dan kelompok yang baik. Saya tidak banyak berkontribusi. Saya tidak merasa saya anak yang baik. Seringkali saya melawan orangtua. Saya tidak merasa saya kakak yang baik. Saya tidak mengajar adik saya ketika dia kesulitan (yah, maaf, semenjak di TI saya memang lupa pelajaran SMA). Saya tidak merasa saya anak Tuhan yang baik. Seringkali saya lalai berdisiplin rohani. Seringkali saya terjatuh dalam dosa. Seringkali saya menjalankan semuanya hanya rutinitas. Seringkali saya munafik. Seringkali saya terlalu banyak mengeluh dan tidak bersyukur. Yah, yang status saya yang paling belakang sepertinya paling banyak ya salahnya?

Kalau waktu bisa diulang… Ah, tidak. Saya percaya Allah mempunyai rencana yang sangat baik untuk saya. Waktu ini pun, tindakan ini, kejadian ini, kondisi ini, semuanya sudah diatur olehNya. There’s no such thing like coincidence, isn’t it?

How far we have gone…

Tuhan terlalu baik sama saya. Terlau baik. Terlalu banyak yang Dia berikan. Termasuk masalah yang membuat saya bertumbuh. Dan biarlah saya terus bertumbuh sehingga akhirnya terbang di bawah kepak sayapNya.

Whatever…

Entah mengapa aku menulis hari ini…

Ya… Tiba-tiba saja aku ingin menuliskan sesuatu…

Tidak tahu apa yang mau disampaikan.

Hanya menulis saja. Dan menulis.

Mungkin karena aku merindukan tulisannya?

Atau sekedar menuangkan perasaan?

Perasaan yang lama tak tersampaikan

Yang tersimpan sejak aku mem-private tulisanku?

Yang tersimpan semenjak ke-introvert-an ku mulai?

Hei. Aku tidak introvert.

Aku hanya…

Ah, tidak seorang pun mengerti.

Sudahlah.

Kali ini aku hanya mau mem-publish tulisanku. Itu saja.

Trust His Heart

Cynthya Clawson

all things work for our good
though sometimes we can’t see how they could
struggles that break our hearts in two
sometimes blind us to the truth
our Father knows what’s best for us
His ways are not our own
so when your pathway grows dim
and you just can’t see Him
remember you’re never alone

God is too wise, to be mistaken
God is too good, to be unkind
so when you don’t understand…
when you don’t see His plan…
when you can’t trace His hand…
Trust His Heart

He sees the masterplan
He holds the future in His hands
so don’t live as those who have no hope
all our hope is found in Him
we see the present clearly
but He sees the first and the last
and like a tapestry He’s weaving you and me
to someday be just like Him

God is too wise, to be mistaken
God is too good, to be unkind
so when you don’t understand…
when you don’t see His plan…
when you can’t trace His hand…
Trust His Heart

He alone is faithful and true
He alone knows what is best for you

so when you don’t understand…
when you don’t see His plan…
when you can’t trace His hand…
Trust His Heart!

Ah, kesel!

KasihMu Termegah

KasihMu Termegah
Giving My Best

Dengan lutut bertelut
Kau berkata pada Bapa
“Bukan kehendak-Ku, namun kehendak-Mu
jadilah”

Tak pernah terlintas
Tuk Kau tolak salib yang menanti-Mu
Kau telah relakan
Darah Mu untuk menebus dosaku

Betapa ku mencintai Mu
Dan pengorbanan Mu
Kasih Mu sungguh terbesar
Kau rela disiksa untukku
Disalib bagiku
Sungguh kasih Mu termegah untukku

Dengan tubuh yang hancur
Kau berseru pada Bapa
“Ampunilah m’reka s’bab m’reka tak tau
yang m’reka lakukan”

Tak pernah terlintas
Tuk kau tolak paku yang menusuk-Mu
Kau sungguh relakan
Darah-Mu tuk menebus hidupku

I’m disorientated…

I’m tired…

I just want to escape…

Edensor, are you real?

Take me to you.

Yea! Tahun baru! Weits, jangan salah, ni bukan post pertama gw di 2009. Ini udah post ke berapa ya? Gw itung dulu, 1…2…3…, Well, kedua. Haha!

Iya, udah lama nih gw ga mempublish tulisan gw di sini. Tapi bukan karena apa-apa. Tau kan, kalo kemaren gw sempet ga main di sini, karena beberapa hal? Nah, sebenernya gw tetep nulis di blog ini, tapi, semua tulisan gw PRIVATE. Biar ga bisa dibaca orang. Hehe. Nah, lama-lama, gw jadi kebiasaan “terlalu private”. Gw nulis kayak nulis diary aja. Ampe yang terdalam sangat, yang hanya gw dan Tuhan yang tahu. Haha! Jadi keterusan deh, jadinya ga mublish kisah-kisah kehidupan gw lagi. Caelah. Haha.

Mulai tahun ini, janji deh, gw akan coba nulis blog lagi, menceritakan hari-hari lagi. Tapi dengan level ke-private-an tertentu. Pasteh maseh ada yang gw private! Haha.

Okelah. Kita mulai nanti-nanti. Haha!

GBU.

A Strange Way To Save The World
words & music by Dave Clark, Mark Harris & Don Koch

I’m sure he must have been surprised
At where this road had taken him
‘Cause never in a million lives
Would he have dreamed of Bethlehem.

And standing at the manger
He saw with his own eyes
The message from the angel come to life.
And Joseph said…

Why me, I’m just a simple man of trade?
Why Him with all the rulers in the world?
Why here inside this stable filled with hay?
Why her, she’s just an ordinary girl?
Now, I’m not one to second guess
What angel’s have to say.
But this is such a strange way to save the world.

To think of how it could have been
If Jesus had come as He deserved.
There would have been no Bethlehem
No lowly shepherds at His birth.

But Joseph knew the reason the love
Had to reach so far
And as he held the Savior in his arms
He must have thought…

Why me, I’m just a simple man of trade?
Why Him with all the rulers in the world?
Why here inside this stable filled with hay?
Why her, she’s just an ordinary girl?
Now, I’m not one to second guess
What angel’s have to say.
But this is such a strange way to save the world.

Now, I’m not one to second guess
What angel’s have to say.
But this is such a strange way to save the world.

This is such a strange way,
Such a strange way,
Such a strange way
To save the world.

Older Posts »